Radar Berita – Wakil Presiden Republik Indonesia ke 10 dan 12, Jusuf Kalla (JK), membagikan pandangannya terkait dinamika dunia saat ini. Beliau menegaskan pentingnya menjunjung tinggi rasa perikemanusiaan guna menyelesaikan berbagai krisis global. Gagasan tersebut ia sampaikan dalam kuliah umum di Yale University, New Haven, Connecticut, Amerika Serikat, pekan ini.
Menembus Batas demi Solusi Bersama
Acara akademik tersebut dihadiri oleh sekitar 100 peserta dari kalangan mahasiswa serta dosen Yale. Dalam paparannya, JK mengingatkan bahwa bencana alam dan konflik bersenjata kini saling berkelindan melintasi batas negara. Oleh karena itu, masyarakat dunia wajib mengedepankan empati bersama demi menemukan jalan keluar.
Mantan wakil presiden ini menegaskan bahwa nilai universal kemanusiaan harus melampaui perbedaan ras, etnis, maupun agama. “Kemanusiaan harus menjadi paradigma utama kita dalam menghadapi krisis global,” ujar JK. Beliau meyakini bahwa titik tolak tersebut mampu mempersatukan dunia di tengah kesulitan.
Kekuatan Militer Bukan Jaminan Utama
Selain itu, JK menyoroti pergeseran peta kekuatan militer di kancah internasional. Kepemilikan persenjataan mutakhir terbukti tidak serta-merta menjamin kemenangan mudah dalam sebuah peperangan. Beliau mencontohkan perang Rusia-Ukraina yang berlarut-larut serta ketahanan Iran menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel.
Ancaman kelompok bersenjata Houthi terhadap negara-negara di kawasan Teluk turut memperkuat bukti dinamika tersebut. Akibatnya, faktor strategi, semangat juang, dan penguasaan sains teknologi menjadi penentu krusial dalam menghadapi konflik.
Pentingnya Dialog dan Diplomasi
Menyikapi fenomena itu, JK mengingatkan bahwa teknologi dan kemampuan manusia memegang peranan sangat vital. “Perkembangan konflik saat ini menunjukkan bahwa keunggulan persenjataan saja tidak cukup,” tuturnya.
Namun, kekuatan militer bukanlah satu-satunya jalan keluar untuk mewujudkan stabilitas keamanan. Pendekatan kemanusiaan, keterbukaan berdialog, serta pemahaman atas akar masalah tetap menjadi kunci mutlak menuju perdamaian.







