Radar Berita – Pihak militer Iran menyampaikan peringatan tegas terkait potensi eskalasi perang AS Iran pada Sabtu (31/10/2026). Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, menyoroti bahaya aksi militer AS bersama Israel. Ia memperingatkan bahwa “kobaran perang niscaya akan meluas ke wilayah geografis yang jauh lebih luas” jika Trump menyerang lagi.
Kesiapan Militer dan Konflik Selat Hormuz
Akraminia menegaskan bahwa Trump tidak akan mampu mengendalikan akhir dari konflik tersebut. Selain itu, ia menuding Presiden AS kerap mengabaikan jalur diplomasi. Akibatnya, tentara Iran terus meningkatkan kesiapan tempur dan memantau pergerakan AS di kawasan itu.
Ketegangan kawasan ini terus membara setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Kejadian tersebut langsung memicu tindakan balasan dari pihak Iran. Meskipun ada nota kesepahaman pada Juni antara Washington dan Teheran, konflik navigasi di Selat Hormuz belum mereda.
Kritik Internal di Amerika Serikat
Di sisi lain, politikus senior AS Bernie Sanders melemparkan kritik tajam terhadap dampak perang tersebut. Senator itu mengutuk perusahaan minyak yang meraup untung besar saat keluarga pekerja berjuang keras. Akibat perang tersebut, harga bahan bakar minyak tercatat melonjak hingga 39 persen.
Sanders membeberkan bahwa laba Exxon melonjak 130 persen dan Chevron naik 185 persen. Selain itu, keuntungan Shell melipat ganda di tengah krisis tersebut. Namun, Sanders menyebut respons Trump terhadap kondisi rakyat hanya singkat, “Saya tidak peduli.”








