Radar Berita – Amerika Serikat berencana membawa isu krisis geopolitik global ke forum menteri luar negeri G20. Pertemuan ini berlangsung di Atlanta, Georgia, pada 30–31 Oktober 2026. Kehadiran utusan Rusia di tengah ketegangan diplomatik menjadi pusat perhatian.
Fokus Ekonomi dan Keamanan Jalur Perdagangan
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memimpin jalannya forum tersebut. Departemen Luar Negeri AS menyampaikan pernyataan resmi pada Senin (26/10/2026). Pihaknya menekankan bahwa isu ketahanan pangan, pasokan energi, dan rantai pasok sangat memengaruhi stabilitas ekonomi.
Pemerintah AS ingin mendorong kerja sama nyata demi mengurangi dampak krisis. Langkah ini menjadi bagian dari agenda Presiden Donald Trump. Selain itu, pertemuan di Atlanta menjadi persiapan menuju KTT G20 di Miami, Florida, pada 14–15 Desember 2026.
AS menegaskan komitmennya dalam forum ini. “Amerika Serikat akan bekerja sama dengan para mitra G20 untuk mengatasi krisis geopolitik,” tulis pihak Departemen Luar Negeri AS. Namun, gangguan di Laut Merah dan Selat Hormuz terus memicu ancaman ekonomi.
Dampak Gangguan Logistik dan Energi Dunia
Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) merilis laporan penting pada 17 September 2026. Lembaga tersebut mencatat lebih dari 80 persen barang dunia didistribusikan lewat laut. Akibatnya, ketegangan di jalur pelayaran langsung memicu lonjakan biaya logistik.
Tarif pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia Timur melonjak pada akhir Agustus. Biaya angkut bahkan melampaui 120 dolar AS per ton. Selain itu, rute kapal Arab Saudi ke Korea Selatan membengkak dari 24 hari menjadi 54 hari.
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez memberikan peringatan tegas pada 28 Agustus. Ia menyebut sekitar 400 kapal dan 6.000 awak terjebak di Teluk Persia sejak Februari 2026. Sementara itu, IMF pada 15 Oktober menegaskan bahwa perang berkepanjangan dapat memperpanjang krisis ekonomi.






