Transformasi ‘LELE-NOMICS’ : Dosen dan Mahasiswa UPR Dongkrak Nilai Tambah Lele Lewat Inovasi ‘GENTING-LE’

oleh -108 Dilihat
oleh
Transformasi ‘LELE-NOMICS’ : Dosen dan Mahasiswa UPR Dongkrak Nilai Tambah Lele Lewat Inovasi ‘GENTING-LE’
Transformasi ‘LELE-NOMICS’ : Dosen dan Mahasiswa UPR Dongkrak Nilai Tambah Lele Lewat Inovasi ‘GENTING-LE’

PALANGKA RAYA – Komoditas ikan lele merupakan salah satu pilar ekonomi kerakyatan yang sangat potensial di Kota Palangka Raya, dengan total produksi daerah mencapai 1.181,67 ton per tahun. Sayangnya, potensi ekonomi yang besar ini belum terkapitalisasi secara optimal. Mayoritas pembudidaya ikan lokal masih terjebak dalam pola bisnis tradisional, sangat bergantung pada tengkulak, serta menjalankan roda usahanya hanya berdasarkan “insting” tanpa manajemen keuangan yang valid.

Merespons tantangan sistemik tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Palangka Raya (UPR) yang dipimpin oleh Okta Malinda (Ketua Pengusul dari Program Studi Akuntansi) bersama anggotanya Theresia Octaviani (Akuntansi) dan Silvani Permatasari (Kedokteran), meluncurkan sebuah program inovatif multidisiplin bertajuk “LELE-NOMICS”.

Jasa Penerbitan Buku ISBN

Program yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini bertujuan mengintegrasikan diversifikasi produk olahan hilir berbasis zero waste, penguatan rantai pasok (Smart Supply Chain), digitalisasi pencatatan usaha dengan teknologi aplikasi terkini (Smart Ledger) serta bagaimana strategi atakelola manajemen pemasarannya dari mulai pengemasan modern hingga penjualan secara digital.

Dalam pelaksanaannya, tim UPR menggandeng Fourtha Farm, sebuah unit budidaya lele produktif di Jalan Kalibata V, Kelurahan Menteng, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya. Melalui pendekatan komprehensif, kelompok peternak dan ibu-ibu di lingkungan sekitar dilatih untuk mengolah lele mentah menjadi empat varian produk pangan inovatif modern bermerek GENTING-LE, yaitu Nugget, Dendeng, Abon, dan Bone Stik Lele.

“Selama ini, 100% hasil panen mitra dijual dalam bentuk segar sehingga rentan mengalami kerugian saat terjadi oversupply atau harga pakan melonjak. Merujuk pada peta jalan hilirisasi industri nasional, terdapat potensi peningkatan nilai tambah (added value) hingga 400% jika komoditas primer diolah menjadi produk turunan menarik seperti GENTING-LE,” ujar Okta Malinda dalam keterangannya.

Inovasi ini juga menerapkan prinsip zero waste yang ramah lingkungan. Salah satu produk unggulannya, Bone Stik Lele, memanfaatkan limbah tulang ikan lele sisa filasi menjadi camilan bernutrisi tinggi. Dari sisi kesehatan, Silvani Permatasari menambahkan bahwa lele merupakan superfood lokal kaya akan Protein Esensial, Vitamin B12, serta Omega-3 dan Omega-6 yang sangat krusial dalam mendukung tumbuh kembang anak serta menjadi solusi alternatif pencegahan stunting di Kota Palangka Raya.

Selain inovasi produk dan kemasan modern, program LELE-NOMICS mengintervensi kelemahan manajemen mitra yang selama ini berstatus unbankable (sulit mengakses permodalan perbankan) karena tidak memiliki laporan keuangan akurat. Okta Malinda, selaku ketua tim merupakan pakar akuntansi, menerapkan sistem Smart Ledger, sebuah buku kas digital terintegrasi aplikasi smartphone. Melalui metode Activity Based Costing (ABC) yang disederhanakan, mitra kini mampu memisahkan keuangan rumah tangga dengan modal usaha, menghitung biaya penyusutan kolam, logistik, serta mengkalkulasi harga pokok produksi (HPP) produk olahan secara akurat. Sistem ini dikawinkan dengan teknologi Smart Supply Chain untuk memantau rantai pasok ikan secara real-time dari hulu hingga hilir. Sinkronisasi data antara pembudidaya, unit pengolah, dan pasar ritel berhasil memangkas dominasi perantara (tengkulak) yang tidak transparan, sehingga margin keuntungan bersih peternak meningkat secara signifikan. Dengan dokumen laporan keuangan digital dan Standard Operating Procedure (SOP) keuangan yang akuntabel, UMKM Fourtha Farm kini siap naik kelas menuju status bankable untuk mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Guna memastikan produk olahan GENTING-LE tidak sekadar diproduksi, melainkan mampu bersaing secara komersial, tim UPR juga menyelenggarakan Pelatihan Digital Marketing dan Optimalisasi E-Commerce. Dalam sesi ini, mitra dibekali keterampilan teknis mulai dari seni fotografi produk (aesthetic food photography), pembuatan kemasan (branding & packaging design), hingga strategi pembuatan konten kreatif di media sosial. Tim melatih mitra untuk menggeser paradigma penjualan dari pasar tradisional ke pasar digital nasional. Melalui pemanfaatan platform marketplace dan penguatan identitas brand digital, produk lokal GENTING-LE kini memiliki daya saing vertikal dan jangkauan pasar yang jauh lebih luas,” tambah Theresia Octaviani.

Program LELE-NOMICS ini terbukti membawa dampak nyata yang luas. Selain meningkatkan pendapatan dan kapasitas manajerial mitra hingga lebih dari 80%, kegiatan ini juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar. Program ini turut melibatkan mahasiswa UPR, seperti Satius Agustino dan Izzy Alliesky Ivanka, sebagai implementasi Indikator Kinerja Utama (IKU 2) perguruan tinggi dalam memberikan pengalaman belajar langsung di luar kampus.

Secara makro, program ini selaras dengan Asta Cita ketiga Pemerintah RI dalam mendorong kewirausahaan dan mengembangkan industri kreatif, serta berkontribusi langsung pada pencapaian SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDGs 2 (Tanpa Kelaparan / Kedaulatan Pangan). Tim Pengabdian UPR berharap model ekosistem ekonomi sirkular berbasis teknologi digital “LELE-NOMICS” ini dapat menjadi percontohan yang direplikasi secara nasional oleh UMKM perikanan dan sumber daya lokal lainnya di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.